Hehehhe :D
*biasanya kalo di awali sama ketawa, kebawahnya bakalan enak*
baca postingan gue yang ini gak --) klik
kata - kata terakhirnya kan (mandi dan bersowerlah =''=)
masa kakak, aku belum tauu =..=
jorok banget yaa aku, kakak.. hehe
yaudah deh, mumpung masih pagi juga.. (jam segini pagii??)
aku mandi dulu yaa, oke stau tune
Bawalah mimpimu menggapai langit, menempuh semua rintangan, tersenyum membawa kemenangan.Mimpi adalah sebuah khayalan semua manusia yang indah, yang dapat kita raih dengan kemauan keras dan usaha - salah satu peraih mimpi generasi muda Indonesia:)
Total Tayangan Laman Gue ^^
let's go, Joinn now!!
Tampilkan postingan dengan label cerpen saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen saya. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 15 Oktober 2011
Belom mandi dan gosok gigi
Label:
bau,
belum mandi dan gosok gigi,
cerita kakak,
cerpen saya,
curcol,
curhat,
curhat anak sma,
curhat anak smp,
Sofhia,
Sofhia anjani swid,
sofhia anjani swid SMAN 98 jkt
Kamis, 02 Desember 2010
Kehidupanku selalu di isi dengan "Bullying"
Cermie! (Cerpenan kami)
Kalau aku bisa, aku ingin sekali dilahirkan kembali menjadi seseorang yang baru, kepribadian yang baru, serta lingkungan kehidupanku yang baru. Tetapi, Permintaanku hanyalah percuma dan tak akan mungkin dapat terkabulkan. Hidupku hanya di permainkan saja. Oleh Ayah, Ibu, teman-teman, om tante, dan tentunya orang-orang disekitarku. Mereka melihatku dengan tampang jijik untuk mendekatiku. Apa salahku? Atau mungkin karena kejadian itu? tetapi, menurutku itu hanyalah masalah sepele yang diperbesar-besarkan oleh orang-orang yang sirik, dan ingin membalas dendam kepadaku. Karena, aku adalah seorang anak guru kejam. Tetapi, kenapa harus aku yang harus menanggung kesalahan-kesalahan orang tuaku. Ini tidak adil, tapi apa yang bisaku lakukan. Apa aku harus membalas kembali bullyingan mereka? tapi, jiwa ragaku tak sanggup untuk melakukannya. Dan karena bullyingan itu semuah aku menjadi buta, dan lumpuh. Aku hanya dapat mendengar dan berbicara saja. Hingga hari ini, usiaku yang sudah berkepala dua. Bullying itu tetap terus menjeputku, aku masih ditempa dengan bullying. Apakah hidupku selalu seperti ini? . Hingga suatu hari, seseorang yang terdengar sehat bugar, baik jasmani maupun rohani. Sambil tersipu kaget iya melihatku. Matanya tak berkedip sedetikpun melihatku. Lalu, iya memulai percakapannya denganku. "Apakah kau itu Zaverika Vanmeliya qufarabbih?" tanyanya sambil tersipu-sipu lalu memeluku, setelah aku menganggukan kepalaku yang sangat berat ini. "Tolonglah ikut denganku, ibuku sedang sakit di rumah, bantulah ibuku" dengan meneteskan air mata setetes demi setetes. "baiklah, aku siap membantu siapa saja yang butuh pertolongan, dari wanita ssepertiku" jawabku dengan menahan air mata yang keluar. Karena, baru kali ini ada seseorang yang meminta pertolonganku dengan menangis. Biasanya aku takut untuk menerima tawarannya, karena aku sudah tau pasti aku akan dilakukan seperti itu lagi. Tapi, hati ini tak tega untuk membiarkan seseorang yang menghampiriku sambil memeluku dan meminta bantuanku. Aku beranikan diri mengikutinya. Tangannya yang lembut, seperti menggambarkannya seseorang yang penuh dengan kasih sayang. Sesampai dirumah ibunya, ibunya langsung .meminta maaf atas kejadian 8 tahun yang lalu itu. Saat dimana akukehilangan mata dan kaki-kakiku, karena seseorang menabrakku hingga sapai seperti ini. Rupanya, seseorang itu adalah sahabatku. Sahabat dariku menginjak bangku sekolah dasar hingan sekolah menengah pertama. Dia yang sedang menunggu ajalnya, karena penyakit yang sangat berbahaya yaitu, hepatitis D. Aku maafkan dengan hati yang tulus, karena ia adalah sahabatku, walau ia pernah membullyingku tapi, ia tetap sahabatku.
Minggu, 21 November 2010
Hidup kita adalah drama terbaik
Kamis, 11 November 2010. Pukul 14.00 WIB dimana cerita saya akan segera dimulai. Saya adalah pelajar yang sudah menginjak bangku SMP. Namaku Sofhia anjani swid. Aku pelajar SMPN 222 Jakarta. Ceritaku berawal dari kedatangan seorang guru wanita yang berjilbab yang mengajarkan kami tentang bahasa Indonesia.”Anak-anak, sekarang Ibu meminta kepada kalian untuk membuat sebuah cerita pendek dan Ibu meminta kepada ketua kelas, untuk membuat sampul depannya, yang bertulisakan “kumpulan cerpen 9-2” tolongya.” Teriak guru bahasa Indonesia kami didepan kelas. Awalnya aku tidak yakin dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, yaitu membuat cerpen atau cerita pendek.
Krrrriiinggg… Krrrriiinggg… Krrrrriiinggg… Akupun menghampiri temanku dan bertanya kepada temanku, mereka menggunakan judul apa, untuk digunakan didalam cerpennya.”Taa, cerpen lu judulnya apaan?” tanyaku kepada Permata saat jam istirahat berlangsung.”kalo gua sihh judulnya, cintaku bertemu diempang’’ jawabnya sambil sedikit tertawa, akupun ikut tertawa mendengarnya, lalu aku bertanya kepada temanku yang lain,yaitu Siwi.’’ Siw,kamu judul cerpennya apa?” tanyaku kepada Siwi teman sekelasku juga.Dia tidak menjawab pertanyaanku karena masih tertawa mendengar judul cerpen Permata. Lalu aku berfikir, dan berfikir judul yang cocok dan terbaik untuk cerpenku ini, akhirnya kupilihlah “Menjelajah dunia bersamaku’’, tapi judul itu berubah pada malam harinya.
Kamis, 11 November 2010. Pukul 23.50 WIB. Masih hari yang sama,“fi, sudah malam, mama tidur duluya’’ teriak mamaku dari dalam kamar. ‘’iyaa, mah’’ balasku yang masih diruangan computer sambil bermain game. “ummm, mumpung mata belum menggantuk, lebih baik aku gunakan untuk membuat cerita pendek, yang diperintahkan guruku” gumamku sambil tersenyum lalu aku hentikan permainan yang kumainkan dan memulai menggetik sebuah cerita. Kufikir-fikir “Menjelajar dunia bersamaku” kurang cocok, dan kelihatannya terlalu kekanak-kanakan. Akhirnya, aku mengganti judulnya menjadi “Diary depresiku” yang menceritakan tentang kenakalan remaja, akibat perceraian kedua orangtuanya.
Keesokan harinya, Jum’at 12 November 2010. Seharusnya hari ini aku ada pelajaran Olahraga, serta les yang diberikan oleh sekolah di suatu layanan bimbingan belajar. Tapi, aku tidak menggikuti kedua-duanya, bahkan aku juga tidak masuk sekolah. Entah mengapa aku tidak menggikuti semuanya, akupun tidak tau mengapa, tapi kesempatan ini aku gunakan untuk membuat cerpenku yang sempat tertunda, karena kemarin malam aku ketakutan mendengar suara anjing menggong-gong serta suara burung hantu yang seram, tapi cerpenku itu juga tak bertahan lama, karena keesokan harinya aku ubah kembali judulnya.
Sabtu, 13 November 2010. Pukul 06.00 WIB. Aku menggantar adikku kesekolah menggunakan sepeda motor, dan membatu ibuku berbelaja makanan, untuk sama-sama kita masak didapur. Tapi, tak sampai 1 jam aku membatu ibuku didapur, aku segera kekamar dan menyalakan leptopku dan memulai membuat cerpen dengan judul yang berbeda dari yang kemarin, yang berjudul “Hidup kita adalah drama terbaik” karena saya tau,dalam sebuah drama harus ada pelakunya, yaitu aku,kamu, dan mereka adalah pelaku utamanya. Adegan demi adegan setiap detiknya akan tecatat dan terekam, dan tak dapat diputar kembali. Kejahatan, kebaikan, kemurahan hati, kesabaranpun yang kita lakukan akan pula terekam oleh sebuah kamera, walaupun tak ada orang yang melihat saat itu. Saat nafas pertama, saat itu pula kamera mulai diputar tuk menggambil gambar, jadi berbahagialah karena kita mendapatkan peran yang terbaik dan bersyukurlah atas peran itu. Pelanet bumi adalah panggung kita yang termegah, maka lakukanlah pertunjukan dengan baik.dan yakinlah, perbuatan kita akan tercatat dan terekam menjadi sebuah dokumen kecil yang akan kita pertanggung jawabkan semuanya.
Kamis, 11 November 2010
Diary despresiku
Pagi ini dengan tampang yang kurang semangat, aku berlari menuju sekolahku yang terletak tidak jauh dari tempat tinggalku. Namaku Haciko yang berarti sebuah kesetiaan didalam bahasa Jepang, dengan umurku yang baru beranjak 13 tahun, dan rambut terurai dan acak-acakan, aku berlari dengan secepat-cepatnya, karena jam tangan milikku sudah menunjukan pukul 07.30. Dengan mental yang cukup siap, aku siap dimarahin kembali oleh Pak Kumis (panggilan kesayangan yg diberikan oleh anak-anak kepada satpam sekolahku, yaitu Pak Bejo).
’’Ehhh, kamu!! Sini!!’’ teriak Pak Kumis, sambil memegang kumis tebal yg dibangga banggakannya. “iiyaa pak, ada apaa yaa?’’ tanyaku kepada Pak Kumis sambil gugup dan memikirkan seribu alasan yg harus aku berikan, saat Pak Kumis menanyakan sesuatu yang aneh-aneh. “ Kamu ini, tidak tau waktu yaa? Sekarang sudah jam segini, masih berani masuk!!’’ dengan sedikit menegakkan badannya cukup besar. Saya hanya bisa tertuduk dan berkata iya-iya saja, sambil mendengarkan ceramahnya. 15 menit mendengarkan ceramahnya, akupun segera masuk kelas, dan mendengarkan kembali ceramah dari guru matematika yg sangat galak.
Krrringg.. Kriiingg… Krriingg.. Suara lonceng sokolah terdengar keras sekali. Berlari lah semua siswa keluar kelas, seperti semut keluar dari sarangnya. Aku hanya berjalan perlahan dengan lesu, dan lululantang. Aku menyusuri koridor sekolah. Terdengar suara berat yang cukup keras melengking mendekati tempatku berada. “ci, kamu mau menemaniku jalan-jalan dulu gak? Bosen aku dirumah.’’ Sambil tersenyum lebar, laki-laki sebaya denganku yang mempunyai postur tubuh yang jangkung, berkulit putih dan berambut pirangyang bernama Arvin. Aku hanya meliriknya dan mengangguk. “Kamu tidak meminta izin terlebih dahulu kepada orang tuamu,?” tanyanya yang berlagak seperti orang dewasa. Aku hanya terdiam, dan melanjutkan langkahku, dan dia melanjutkan kembali langkahnya, menujuku.
Setelah seharian aku berjalan dengan Arvin, aku kembali kekehidupanku yang suram. Masuk kerumah yang hanya ada ayahku. Kedua orangtuaku cerai 5tahun yang lalu. Saat ayahku mulai pergi entah kemana dan akupun mulai kelaparan. Setiap hari aku hanya mendapat belas kasihan dari para tetangga sebelah rumahku. Aku tidak tau dimana sanak keluargaku, karena sempat ayahku berkelahi dengan omku, karena perebutan harta. Tak tau lagi apa yang harus aku kerjakan, apa yang harus aku perbuat, tak tau lagi apa itu artinya kasih sayang, kehangatan, dan sebuat cinta.Disaat aku belum mengerti sebuah arti perceraian, semua hancur yang duluku miliki, bersama ayah dan ibu, tertawa bersama sambil menonton televisi, berjalan bersama-sama, saat mengatarku kesekolah.
Keesokan harinya aku tidak berangkat sekolah, tapi aku hanya menangis dan meminta kepada yang maha esa, untuk mempertemukan aku dengan kedua orangtuaku.Sejenakku lupakan semuanya, dan mencoba apa yang aku inginkan, dan menuju kekenakalan remaja. Mencoba meminum-minuman keras, sambil menggoreskan kaca ditanganku, apapun akan kulakukan untuk melupakan semuanya, dan memulai hidup baru tampanya. Lalu, aku disadarkan oleh temanku Arvin, dia menyadarkanku tentang kesalahanku selama ini, dia menujukan rasa kasih sayang dan ketulusan sebuah cinta. Aku menanggis dipelukannya, dan sekarang aku paham, bahwa jika aku terus melakukan hal seperti itu, itu tetap tidak akan menggembalikan kembali orangtuaku yang telah hilang.
’’Ehhh, kamu!! Sini!!’’ teriak Pak Kumis, sambil memegang kumis tebal yg dibangga banggakannya. “iiyaa pak, ada apaa yaa?’’ tanyaku kepada Pak Kumis sambil gugup dan memikirkan seribu alasan yg harus aku berikan, saat Pak Kumis menanyakan sesuatu yang aneh-aneh. “ Kamu ini, tidak tau waktu yaa? Sekarang sudah jam segini, masih berani masuk!!’’ dengan sedikit menegakkan badannya cukup besar. Saya hanya bisa tertuduk dan berkata iya-iya saja, sambil mendengarkan ceramahnya. 15 menit mendengarkan ceramahnya, akupun segera masuk kelas, dan mendengarkan kembali ceramah dari guru matematika yg sangat galak.
Krrringg.. Kriiingg… Krriingg.. Suara lonceng sokolah terdengar keras sekali. Berlari lah semua siswa keluar kelas, seperti semut keluar dari sarangnya. Aku hanya berjalan perlahan dengan lesu, dan lululantang. Aku menyusuri koridor sekolah. Terdengar suara berat yang cukup keras melengking mendekati tempatku berada. “ci, kamu mau menemaniku jalan-jalan dulu gak? Bosen aku dirumah.’’ Sambil tersenyum lebar, laki-laki sebaya denganku yang mempunyai postur tubuh yang jangkung, berkulit putih dan berambut pirangyang bernama Arvin. Aku hanya meliriknya dan mengangguk. “Kamu tidak meminta izin terlebih dahulu kepada orang tuamu,?” tanyanya yang berlagak seperti orang dewasa. Aku hanya terdiam, dan melanjutkan langkahku, dan dia melanjutkan kembali langkahnya, menujuku.
Setelah seharian aku berjalan dengan Arvin, aku kembali kekehidupanku yang suram. Masuk kerumah yang hanya ada ayahku. Kedua orangtuaku cerai 5tahun yang lalu. Saat ayahku mulai pergi entah kemana dan akupun mulai kelaparan. Setiap hari aku hanya mendapat belas kasihan dari para tetangga sebelah rumahku. Aku tidak tau dimana sanak keluargaku, karena sempat ayahku berkelahi dengan omku, karena perebutan harta. Tak tau lagi apa yang harus aku kerjakan, apa yang harus aku perbuat, tak tau lagi apa itu artinya kasih sayang, kehangatan, dan sebuat cinta.Disaat aku belum mengerti sebuah arti perceraian, semua hancur yang duluku miliki, bersama ayah dan ibu, tertawa bersama sambil menonton televisi, berjalan bersama-sama, saat mengatarku kesekolah.
Keesokan harinya aku tidak berangkat sekolah, tapi aku hanya menangis dan meminta kepada yang maha esa, untuk mempertemukan aku dengan kedua orangtuaku.Sejenakku lupakan semuanya, dan mencoba apa yang aku inginkan, dan menuju kekenakalan remaja. Mencoba meminum-minuman keras, sambil menggoreskan kaca ditanganku, apapun akan kulakukan untuk melupakan semuanya, dan memulai hidup baru tampanya. Lalu, aku disadarkan oleh temanku Arvin, dia menyadarkanku tentang kesalahanku selama ini, dia menujukan rasa kasih sayang dan ketulusan sebuah cinta. Aku menanggis dipelukannya, dan sekarang aku paham, bahwa jika aku terus melakukan hal seperti itu, itu tetap tidak akan menggembalikan kembali orangtuaku yang telah hilang.
Langganan:
Postingan (Atom)